Desa Wisata Kebon Agung

[gudeg.net] Pada awalnya wilayah kebonagung merupakan bagian dari Kesunanan Surakarta Hadiningrat. Seiring dengan terjadinya Perjanjian Giyanti yang memisahkan wilayah Mataram menjadi dua wilayah maka Kerajaan Mataram pun terbagi menjadi dua. Pada masa sebelum muncul Perjanjian Giyanti wilayah Kebonagung merupakan bagian dari Kraton Surakarta dan menjadi wilayah penting bagi Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kebonagung menjadi wilayah penyangga pangan bagi Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Disamping sebagai wilayah penyangga pangan bagi Surakarta, Kebonagung juga di gunakan sebagai tempat pembuangan maupun pengasingan bagi garwa selir Raja Surakarta. Dalam bahasa jawa pengasingan ini lazim di sebut dikebonkan, karena  yang dikebonkan wilayah yang agung. Semenjak itulah wilayah tersebut dikeal sebagai wilayah Kebonagung.

Masyarakat Desa Kebonagung sebagian besar mengandalkan mata pencahariannya melalui bercocok tanam dan memelihara hewan ternak. Para petani sendiri kebanyakan tidak memiliki lahan namun mengerjakan lahan tersebut untuk orang lain. Selain itu dahulu juga terdapat para penambang pasir yang tinggal di daerah tersebut. Dikhawatirkan akan terjadi erosi bila pasir terus-menerus diambil. Saat itulah beberapa tokoh masyarakat di desa tersebut mulai berpikir bahwa pemandangan di sekitar bendungan cukup menarik. Dari sini berawal ide untuk membuat Desa Kebonagung menjadi desa wisata yang menawarkan pengalaman hidup di desa serta keindahan alamnya. Dengan demikian Kebonagung menjadi desa wisata pendidikan berbasis pertanian dan budaya.

Berbagai hal yang dialami Desa Kebonagung secara kronologis selama 10 tahun terakhir adalah sebagai berikut:
1. 2001: Dinyatakan sebagai daerah tertinggal-tertinggal dan dituntut untuk mengadakan perbaikan.
2. 2003: Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mulai dibentuk, bagi beberapa orang yang pesimis dengan kelompok ini menganggap bahwa Pokdarwis adalah Kelompok Modar Yo Wis.
3. 2005: Tambak Tegal Agung mulai mendapat perhatian dari para pengunjung
4. 2006: Kebonagung mulai menerima tamu yang salah satunya adalah sekelompok anak dari SMA 71 Jakarta.
5. 2007: Sungai Opak dibendung untuk mengairi selatan Imogiri.
6. 2008: bendungan diresmikan sebagai obyek wisata
7. 2009: terpilih sebagai proyek Inpres periode 2009-2014 (di Jawa hanya ada 3 desa yang terpilih)
8. 2010: Program pemberdayaan masyarakat mandiri pariwisata akan mendapat dana Rp 60 juta untuk menghidupkan kembali kelompok tari, gejog lesung, kentongan, jathilan, laras madya (rebana untuk lansia), serta membeli seragam dan alat-alat yang diperlukan untuk proses pengembangan.

Desa Kebonagung merupakan salah satu desa wisata yang terletak di kecamatan Imogiri, Bantul dan 98% penduduknya beragama Islam,  desa ini  terkenal sebagai Desa Wisata Pertanian dan Budaya. Desa Wisata Kebonagung terletak sekitar 17 km ke arah selatan kota Yogyakarta. Letak desa wisata ini juga berdekatan dengan lokasi makam raja-raja mataram di Imogiri. Desa Kebonagung terdiri dari 5 padukuhan yaitu:  Padukuhan Tlogo, Padukuhan Kalangan, Padukuhan Mandingan, Padukuhan Kanten, Padukuhan Jayan.
Wisatawan yang datang ke Desa Wisata Kebonagung dapat menginap di homestay yang menyatu dengan rumah penduduk sehingga para wisatawan bisa mengamati dan mengikuti langsung kehidupan sehari-hari penduduk.  Homestay   ini tersebar di lima pedukuhan yang ada di Desa Wisata Kebonagung. Kegiatan yang bisa dilakukan oleh wisatawan adalah membajak sawah, bercocok tanam, beternak, dan berbagai kegiatan pertanian lainnya.

Selain itu wisatawan juga bisa belajar membatik, karawitan, memasak makanan tradisional, dan menonton pertunjukan seni gejog lesung dan jathilan. Daya tarik yang ditawarkan oleh Desa Wisata Kebonagung adalah keterlibatan langsung para wisatawan dalam kegiatan pertanian masyarakat seperti membajak sawah. Selain pertanian dan budaya, Desa Wisata Kebonagung menyajikan  wisata air seperti canoeing dan perahu naga di Bendungan Tegal.


2 tanggapan untuk “Desa Wisata Kebon Agung

  • Desember 18, 2010 pada 2:45 pm
    Permalink

    saya senang bisa baca baca di blog anda

  • Desember 19, 2010 pada 5:06 am
    Permalink

    terimakasih mas Dodi, kritik dan saran kelalu kami nantikan. 🙂

tinggalkan Komentar